Kamu pasti pernah melihat pelangi setelah hujan. Langit masih mendung, lalu tiba-tiba muncul busur warna-warni yang indah. Rasanya seperti hadiah dari langit setelah hujan membasahi bumi. Tapi pernahkah kamu bertanya, kenapa pelangi muncul justru setelah hujan? Kenapa nggak muncul saat cuaca cerah aja? Jawabannya ada di fisika sederhana yang melibatkan cahaya matahari dan tetes air hujan.

travis akan mengajak kamu menyelami proses ilmiah di balik fenomena alam ini. Nggak perlu jadi ilmuwan, kok. Cukup sedikit rasa penasaran dan imajinasi, kamu bisa memahami bagaimana cahaya matahari bisa terurai menjadi warna-warni seperti yang kita lihat di langit.

mengapa pelangi muncul setelah hujan ternyata ini prosesnya inline 1 38402d5a - Mengapa Pelangi Muncul Setelah Hujan? Ternyata Ini Prosesnya
Ilustrasi: Rainbow after rain. Sumber: Paul-shy / CC BY 4.0.

Bagaimana Cahaya Matahari Berinteraksi dengan Tetes Hujan

Setelah hujan berhenti, udara masih dipenuhi oleh jutaan tetes air yang sangat kecil. Tetes-tetes ini bisa berupa butiran hujan yang belum jatuh ke tanah atau sisa-sisa uap air yang mengembun. Ketika sinar matahari menembus tetes air tersebut, terjadi interaksi yang menarik.

Cahaya matahari sebenarnya terdiri dari berbagai warna yang berbeda. Dalam kondisi normal, warna-warna ini bercampur menjadi satu dan terlihat sebagai cahaya putih. Nah, ketika cahaya putih ini masuk ke dalam tetes air, kecepatannya berubah. Cahaya yang tadinya bergerak di udara (yang kerapatannya lebih rendah) masuk ke air (yang lebih rapat). Perubahan kecepatan ini menyebabkan cahaya membelok. Proses pembelokan cahaya inilah yang disebut pembiasan atau refraksi.

Yang menarik, setiap warna dalam cahaya putih memiliki panjang gelombang yang berbeda. Warna merah punya panjang gelombang paling panjang, sedangkan ungu paling pendek. Karena perbedaan panjang gelombang ini, setiap warna dibiaskan pada sudut yang sedikit berbeda. Merah dibelokkan paling sedikit, ungu paling banyak. Akibatnya, cahaya putih yang masuk tadi terurai menjadi spektrum warna.

mengapa pelangi muncul setelah hujan ternyata ini prosesnya inline 2 196b81ec - Mengapa Pelangi Muncul Setelah Hujan? Ternyata Ini Prosesnya
Ilustrasi: Light refraction. Sumber: Jacek Halicki / CC BY-SA 4.0.

Pembiasan Pertama: Memasuki Tetes Air

Bayangkan sebuah tetes air hujan berbentuk bulat seperti bola kecil. Ketika sinar matahari mengenai permukaan tetes air, sebagian cahaya dipantulkan, tapi sebagian lagi masuk ke dalam. Pada saat masuk inilah terjadi pembiasan pertama. Cahaya dibelokkan karena perbedaan kerapatan antara udara dan air. Warna-warna mulai terpisah di sini, meskipun belum sepenuhnya terlihat.

Setelah masuk, cahaya bergerak di dalam tetes air. Karena tetes air berbentuk bulat, cahaya ini kemudian mengenai dinding belakang tetes air. Di sini terjadi pemantulan. Cahaya dipantulkan kembali ke arah datangnya, tapi tidak sepenuhnya. Sebagian cahaya keluar dari tetes air melalui sisi yang lain, mengalami pembiasan kedua. Pada pembiasan kedua ini, warna-warna semakin terurai dan keluar dengan sudut yang berbeda-beda.

Proses Pemantulan di Dalam Tetes Air

Pemantulan di dalam tetes air adalah kunci mengapa pelangi bisa terlihat oleh mata kita. Tanpa pemantulan ini, cahaya hanya akan lewat begitu saja dan kita tidak akan melihat apa-apa. Ketika cahaya sudah masuk ke dalam tetes air, ia mengenai bagian dalam tetes yang berbentuk cekung. Bagian ini bertindak seperti cermin lengkung yang memantulkan cahaya kembali ke luar.

Proses pemantulan ini bisa terjadi lebih dari satu kali. Pada pelangi primer, cahaya mengalami satu kali pemantulan di dalam tetes air. Pelangi sekunder, yang kadang terlihat lebih redup dan posisinya lebih tinggi, terjadi karena cahaya mengalami dua kali pemantulan. Setiap pemantulan tambahan membuat cahaya semakin lemah, sehingga pelangi sekunder terlihat lebih samar.

Setelah dipantulkan, cahaya keluar dari tetes air melalui pembiasan kedua. Di sini, warna-warna yang sudah terurai tadi keluar dengan sudut yang berbeda. Merah keluar pada sudut sekitar 42 derajat dari arah datangnya, sedangkan ungu pada sudut sekitar 40 derajat. Perbedaan sudut inilah yang membuat kita melihat busur warna dengan merah di bagian luar dan ungu di bagian dalam.

Sudut Pandang dan Posisi Matahari

Pelangi selalu muncul di sisi langit yang berlawanan dengan matahari. Ini karena cahaya matahari harus datang dari belakang kita agar bisa dipantulkan oleh tetes air di depan kita. Kalau matahari ada di depan, cahaya akan menyilaukan mata dan pelangi tidak akan terlihat. Karena itu, pelangi paling sering terlihat pada pagi hari atau sore hari, ketika matahari berada rendah di langit.

Ketinggian matahari juga mempengaruhi bentuk pelangi. Kalau matahari terlalu tinggi, pelangi akan berada di bawah horizon dan tidak terlihat. Itulah sebabnya pelangi jarang muncul saat tengah hari. Posisi matahari yang rendah membuat pelangi terlihat sebagai busur setengah lingkaran. Kalau kamu berada di tempat tinggi seperti di gunung atau di dalam pesawat, kamu mungkin bisa melihat pelangi berbentuk lingkaran penuh.

Mengapa Warna Pelangi Selalu Sama dan Berurutan

Kamu mungkin sadar bahwa urutan warna pelangi selalu sama: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Ini bukan kebetulan. Urutan ini terjadi karena perbedaan indeks bias masing-masing warna. Indeks bias adalah ukuran seberapa besar cahaya dibelokkan ketika melewati suatu medium. Semakin besar indeks bias, semakin besar pembelokannya.

Merah memiliki indeks bias paling kecil, sehingga dibelokkan paling sedikit dan muncul di bagian luar busur. Ungu memiliki indeks bias paling besar, dibelokkan paling banyak, dan muncul di bagian dalam. Warna-warna lain berada di antaranya, menciptakan gradasi yang indah. Urutan ini konsisten di seluruh dunia, karena sifat fisika cahaya tidak berubah.

Uniknya, pelangi yang kita lihat sebenarnya bukan objek fisik yang bisa kita dekati. Pelangi adalah ilusi optik. Setiap orang melihat pelangi yang berbeda, tergantung pada posisi mata masing-masing. Kalau kamu bergerak, pelangi juga akan bergerak mengikuti kamu. Jadi, pelangi yang kamu lihat saat itu benar-benar milikmu sendiri.

Fenomena Pelangi Lain yang Mungkin Kamu Lihat

Selain pelangi primer dan sekunder, ada beberapa fenomena lain yang berkaitan dengan pelangi. Pelangi supernumerary adalah busur tambahan yang sangat tipis di bagian dalam pelangi primer. Busur ini terjadi karena interferensi cahaya, di mana gelombang cahaya saling menguatkan atau melemahkan. Fenomena ini jarang terlihat karena membutuhkan kondisi atmosfer yang sangat spesifik.

Ada juga pelangi bulan, yaitu pelangi yang muncul di malam hari akibat cahaya bulan. Pelangi ini sangat redup dan sulit dilihat dengan mata telanjang. Biasanya hanya terlihat di foto dengan eksposur panjang. Meskipun begitu, pelangi bulan tetap mengikuti prinsip fisika yang sama dengan pelangi matahari.

Pelangi juga bisa muncul di air terjun atau air mancur. Di tempat seperti itu, tetes air terus-menerus beterbangan, sehingga pelangi bisa terlihat kapan saja asalkan ada sinar matahari yang cukup. Beberapa tempat wisata terkenal menawarkan pemandangan pelangi buatan yang indah karena air mancur yang tinggi.

Keindahan yang Berasal dari Fisika Sederhana

Jadi, pelangi muncul setelah hujan karena adanya interaksi antara cahaya matahari dan tetes air. Proses pembiasan, pemantulan, dan pembiasan kedua di dalam tetes air memecah cahaya putih menjadi spektrum warna yang kita lihat. Sudut pandang kita dan posisi matahari juga berperan penting dalam menentukan apakah pelangi terlihat atau tidak.

Fenomena alam ini mengingatkan kita bahwa keindahan sering kali berasal dari proses ilmiah yang sederhana. Tidak perlu campur tangan supernatural atau keajaiban yang tidak masuk akal. Hukum fisika sudah cukup untuk menciptakan pemandangan menakjubkan yang membuat kita berhenti sejenak dan mengagumi alam. Lain kali kamu melihat pelangi, coba ingat proses di baliknya. Mungkin itu akan membuatmu semakin menghargai betapa menakjubkannya dunia ini.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted