Pemungutan suara pilkada DKI telah usai, dan berdasarkan hasil quick count, Gubernur DKI yang baru dapat dipastikan di dimenangkan oleh pasangan Anies – Sandi untuk periode 2017-2022. Kendati dinyatakan kalah, namun pemenang sah adalah yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta berdasarkan hasil real count.

Kekalahan pasangan petahana telah diprediksi sejumlah lembaga survei dan konsultan politik, sebelumnya. Saat pemungatan suara putaran pertama, pasangan Ahok, sapaan Basuki dan Djarot malah menang. Lalu, apa sebenarnya penyebab petahana kalah pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022?

1.  Akar rumput sudah terlalu terdoktrinasi dengan isu Ras dan Agama.

Ahok seorang keturunan Cina dan Kristen, lebih mudah dikucilkan dari Anies yang seorang keturunan Arab dan walaupun Islam, namun beristri lebih dari satu. Dengan demikian, isu banyak istri tidak akan merugikan Anies sama sekali karena terdukung status Ahok yang sekalipun setia pada satu istri, dia non-Muslim.

Bagaimana dengan isu keturunan “bukan Pribumi”? Kebetulan lagi-lagi tidak merugikan Anies. Keduanya sama-sama keturunan “bukan Pribumi” tapi kebetulan juga Anies berasal dari negara trend-setter budaya dari perilaku penghayatan agama mayoritas Islam di negara ini.

Berdasarkan asil riset LSI Denny JA, sekitar 40 persen pemilih yang beragama Islam di DKI Jakarta tidak bersedia dipimpin oleh Ahok yang non-Muslim. Mereka berupaya keras agar Ahok kalah dan tidak memimpin lagi DKI Jakarta. Selain itu, dia juga berasal dari kelompok etnis minoritas.

2. Kesamaan profil pemilih pendukuk calon nomor urut satu dengan tiga

Pendukung, termasuk partai politik pengusung pasangan nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang kalah pada putaran pertama lebih banyak mengalihkan dukungan kepada pasangan Anies dan Sandiaga. Hal ini didasari kesamaan profil pemilih.

3. Kompetitor baru

Dengan adanya kompetitor baru yang menjadikan pemilih memiliki alternatif dalam memilih pemimpin DKI Jakarta. Pasangan Anies dan Sandiaga, serta pasangan Agus dan Sylviana menjadi alternatif pemilih yang pro maupun kontra Ahok

4. Kebijakan yang dinilai kontroversial

Beberapa kebijakan pemerintahan ahok yang dinilai kontroversial dan tidak pro terhadap rakyat kecil seperti penggusuran, penertiban kawasan pemukiman dan reklamasi teluk Jakarta.

5. Karakter Ahok yang cenderung terkesan kasar dan arogan

Sikap mantan Bupati Belitung Timur itu dianggap bukan tipe pemimpin yang layak memimpin Jakarta karena omongannya kerap dianggap kasar. Puncaknya, ketika dia blunder soal ayat suci Alquran. Belum lagi sikapnya yang dinilai tidak konsisten, suatu ketika mencerca partai politik dan hanya ingin maju lewat jalur independen. Namun, selanjutnya ia berjuang mencari dukungan partai politik.

 

Related Post :