Ada sesuatu yang lucu sekaligus aneh dari ide seorang bayi yang masuk kantor, memakai setelan jas, membawa tas kerja, dan bicara seperti manajer yang sedang mengejar target kuartal. Premis itu terdengar seperti lelucon yang cuma bertahan lima menit. Ternyata tidak. “The Boss Baby” berhasil mengubah lelucon sederhana menjadi salah satu kejutan box office yang paling sering dibicarakan orang sampai sekarang.

the boss baby memberikan uang ke pada tim fakta unik - Fakta Unik The Boss Baby yang Menyalip Beauty

Bayangkan kamu duduk di bioskop, menonton bayi tujuh bulan dengan dasi, lalu keluar dan melihat berita bahwa film itu duduk di puncak tangga box office Amerika Utara. Momen seperti itu jarang terjadi. Ketika animasi dengan tokoh bayi bisa menyalip film yang jauh lebih mahal dan jauh lebih sering dibicarakan, ada sesuatu yang menarik untuk dibedah.

the boss baby siapa bossnya - Fakta Unik The Boss Baby yang Menyalip Beauty

Travis sudah mengumpulkan beberapa fakta unik dari film ini, mulai dari angka penjualan tiketnya sampai proyek yang sempat dibatalkan bertahun-tahun sebelum akhirnya jadi. Ceritanya cukup berliku untuk sebuah film tentang bayi.

Menyalip Belle di Pekan Perdana

Pekan perdana “The Boss Baby” di Amerika Utara ditutup dengan sekitar 49 juta dolar. Angka itu cukup untuk menempatkannya di puncak, mengalahkan “Beauty and the Beast” yang pada pekan yang sama mencatat sekitar 47,5 juta dolar. Selisihnya tidak besar, tapi simbolnya besar: sebuah film animasi tentang bayi menggeser versi dongeng paling ikonik yang dibintangi aktor sungguhan.

Yang bikin situasinya makin ramai, pekan itu bukan pekan kosong. Ada “Ghost in the Shell”, “Power Rangers”, dan “Kong: Skull Island” yang sama-sama berebut perhatian penonton. Pasar sedang padat. Dan justru di tengah keramaian itu, bayi bersetelan jas yang keluar sebagai pemenang.

Kalau dipikir lagi, hasil ini masuk akal. Film keluarga punya keunggulan yang sering diremehkan: orang tua butuh tontonan yang bisa dinikmati bareng anak tanpa harus merasa sedang menghabiskan waktu. “The Boss Baby” masuk ke celah itu. Kelucuannya bekerja untuk anak-anak, sindiran dunia kantornya bekerja untuk orang dewasa yang menontonnya.

Dari Buku Bergambar ke Layar Lebar

Film ini diangkat dari buku bergambar untuk anak-anak. Itu titik awal yang penting, karena buku bergambar biasanya cuma punya sedikit halaman dan sedikit teks. Mengubahnya jadi film panjang berarti tim penulis harus membangun dunia yang tidak ada di halaman aslinya.

Versi filmnya menambah lapisan: bayi itu datang ke sebuah keluarga dan langsung bersaing dengan kakaknya yang sudah lebih dulu jadi pusat perhatian. Konflik kakak dan adik itu sederhana, tapi hampir semua orang pernah mengalaminya. Entah sebagai yang lebih tua, entah sebagai yang lebih kecil.

Di sinilah film ini diam-diam pintar. Pembungkusnya absurd, tapi isinya soal perasaan yang biasa. Rasa tersingkir ketika ada anggota baru di rumah. Rasa harus cepat besar. Rasa ingin selalu jadi yang paling diperhatikan. Anak-anak menangkap leluconnya, orang tua menangkap getirnya.

  • Diangkat dari buku bergambar untuk anak-anak.
  • Rating PG, artinya butuh bimbingan orang tua saat menonton.
  • Disutradarai Tom McGrath, yang sebelumnya dikenal lewat “Madagascar”.
  • Alec Baldwin mengisi suara tokoh utamanya.
  • Sempat dibatalkan pada 2014 sebelum akhirnya dikerjakan lagi.

Alec Baldwin dan Tom McGrath di Balik Layar

Alec Baldwin yang mengisi suara Boss Baby. Pilihan ini terdengar aneh di atas kertas, tapi justru itu kekuatannya. Baldwin punya suara berat yang khas, suara orang yang biasa memimpin rapat dan tidak suka dibantah. Menempelkan suara itu ke tubuh bayi adalah lelucon yang bertahan sepanjang film.

Kalau suaranya diganti dengan suara yang lebih lembut dan ramah, seluruh humornya bisa runtuh. Suara Baldwin menyampaikan satu hal tanpa perlu dijelaskan: bayi ini percaya dirinya orang dewasa, dan dia tidak menganggap itu lucu sama sekali. Keseriusannya itu yang bikin penonton tertawa.

Di kursi sutradara ada Tom McGrath, nama yang sebelumnya dikenal lewat “Madagascar”. Pengalamannya menangani komedi animasi yang kacau dan penuh karakter aneh jelas terasa. Dia tahu kapan harus membiarkan adegan berjalan konyol dan kapan harus berhenti sebelum jadi berlebihan.

Label PG dan Jejak Spider-Man

Film ini membawa label PG, yang berarti penontonnya butuh bimbingan orang tua. Label itu tetap disematkan, dan keputusan tersebut masuk akal. Ada beberapa adegan yang bisa bikin anak kecil bertanya, ada pula lelucon yang lebih nyaman dicerna orang dewasa.

Yang mungkin luput dari perhatian banyak orang, Peter Parker alias Spider-Man juga ikut andil dalam film ini. Bukan sebagai tokoh yang tampil di layar, tapi sebagai bagian dari jajaran pengisi suara. Detail kecil seperti ini sering tenggelam di antara deretan nama yang panjang di kredit penutup.

Buat penonton Indonesia, hal-hal semacam ini jadi bahan perbincangan sendiri. Kita suka mencari kejutan kecil di bagian akhir film, lalu membicarakannya di grup percakapan. Ada kepuasan tersendiri ketika menemukan detail yang tidak semua orang sadari.

Proyek yang Sempat Mati di Tahun 2014

Sebelum akhirnya tayang, proyek ini sempat batal pada 2014. Jadi film yang sekarang kita kenal pernah berada di posisi yang tidak jelas, ditunda tanpa kepastian apakah akan dikerjakan lagi atau tidak. Banyak proyek animasi berakhir di titik itu dan tidak pernah kembali.

Kenyataan bahwa film ini akhirnya jadi dan kemudian memuncaki box office membuat kisah di belakangnya terasa lebih menarik. Rencana yang hampir gagal, lalu dihidupkan lagi, lalu berhasil. Urutan seperti itu tidak selalu terjadi di industri film, dan itu sebabnya kisahnya layak dicatat.

Kalau kamu sedang mencari tontonan lain, ada juga daftar 8 film yang sayang untuk dilewatkan di bulan ini. Bisa jadi bahan perbandingan menarik setelah menonton bayi bersetelan jas ini.

Ada satu hal yang membuat “The Boss Baby” bertahan di ingatan penonton. Film ini tidak mencoba jadi lebih pintar dari dirinya sendiri. Dia memakai premis konyol, menjalankannya dengan serius, dan membiarkan penonton menikmati absurditasnya.

Angka box office memang bisa berubah dan dilupakan seiring waktu. Tapi bayi dengan dasi yang bicara soal rapat dan target, itu citra yang sulit dihapus dari kepala. Mungkin itu alasan sebenarnya kenapa dia bisa menyalip Belle pada pekan itu.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted