Ada satu hal yang selalu membuat Travis berhenti menggulir layar saat sedang membuka media sosial: potret orang berpakaian adat. Bukan karena kainnya saja, walau itu juga berpengaruh. Yang bikin berhenti adalah kejutan kecil di wajah mereka. Orang yang biasanya muncul dengan kaus oblong dan sandal jepit tiba-tiba berdiri tegak dengan kain berlapis, penutup kepala, dan gestur yang jauh lebih hati-hati. Cara berdirinya berubah. Cara memandang kamera juga berubah.

Baju Adat Papua Barat - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via ragametnik.wordpress.com
Baju Adat Kalimantan Utara - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via daxgallery.com
Baju Adat Yogyakarta - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via vildadewi7.blogspot.com
Baju Adat DKI Jakarta - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via orami.co.id
Baju Adat Banten - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via goodminds.id
Baju Adat Lampung - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via negerisatu.id
Baju Adat Bengkulu - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via seringjalan.com
Baju Adat Sumatera Selatan - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via backpackerjakarta.com
Baju Adat Sumatera Utara - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via adatindonesia.org
Baju Adat Aceh - Pakaian Adat Paling Populer di Indonesia dan Kisahnya
photo via tribunnews.com

Pakaian adat bukan barang asing buat orang Indonesia. Kita melihatnya di acara pernikahan, di panggung pertunjukan tarian daerah, di upacara sekolah, sampai di sesi foto sebelum akad nikah. Masalahnya, banyak dari kita cuma tahu bentuknya, bukan namanya. Kita bisa menyebut asal daerahnya, tapi berhenti di situ. Padahal di balik setiap potong kain ada aturan, sejarah, dan kadang hierarki sosial yang keras.

Wikipedia bahasa Indonesia mencatat bahwa kebudayaan Indonesia mencakup kebudayaan negara, kebudayaan setempat, maupun kebudayaan asing yang sudah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Di dalam cakupan itu ada tarian daerah, pakaian adat, dan rumah adat. Jadi posisi pakaian adat bukan pelengkap kecil dalam daftar budaya. Ia salah satu penanda utama bahwa sebuah daerah punya wajah sendiri.

Kenapa Pakaian Adat Terasa Begitu Dekat Sekarang

Dulu, pakaian adat melekat pada aturan yang ketat. Ada pakaian untuk raja, ada untuk bangsawan, ada untuk rakyat biasa. Ada juga pakaian yang hanya boleh dipakai saat upacara tertentu, dan memakainya di luar konteks itu bisa dianggap melanggar. Pakaian jadi penanda posisi seseorang. Kamu bisa menebak siapa orang itu dari kain yang melingkari tubuhnya.

Sekarang logikanya berbalik. Pakaian adat lebih sering muncul sebagai pilihan, bukan kewajiban. Orang memakainya karena ingin, karena sedang merayakan sesuatu, atau karena memang ikut pertunjukan. Di banyak kota, jasa penyewaan pakaian adat tumbuh subur. Ada yang menyediakan paket lengkap dengan perias dan aksesori, ada juga yang menyewakan per potong untuk keperluan foto.

Yang menarik, pemakaian ulang ini sering terjadi di luar konteks aslinya. Pakaian adat dipakai untuk foto wisuda, untuk konten, untuk ulang tahun, untuk reuni keluarga. Ada yang kemudian mempertanyakan hal itu, apakah tidak mengurangi kesakralan. Pertanyaan itu sah. Tapi ada sisi lain yang juga nyata: semakin sering orang memakainya, semakin banyak yang penasaran ingin tahu asal-usulnya, dan rasa penasaran itu biasanya berujung pada pencarian nama dan sejarah.

Ulee Balang, Pakaian Yang Dulu Hanya Untuk Keluarga Kesultanan

Salah satu nama yang paling sering muncul ketika orang membahas pakaian adat Indonesia adalah Ulee Balang dari Aceh. Pakaian ini pada awalnya hanya digunakan oleh keluarga kesultanan. Jadi dulu ia bukan pakaian rakyat jelata. Ia melekat pada lingkaran kekuasaan, pada orang-orang yang punya kedudukan di dalam istana.

Alasan pembatasannya cukup jelas kalau kita lihat bahannya. Ulee Balang dibuat dari bahan yang mewah dan dilengkapi sulaman emas serta aksesori berupa logam mulia asli. Bayangkan biaya membuatnya. Bukan jenis pakaian yang bisa dijahit sembarangan lalu dipakai harian untuk ke pasar. Kemewahan itu sendiri sudah jadi dinding pemisah antara pemakainya dan orang lain.

Ulee Balang terdiri dari dua macam pakaian. Ada Linto Baro yang digunakan laki-laki, dan ada Daro Baro yang digunakan perempuan. Pembagian ini penting karena menunjukkan bahwa dalam satu nama besar, ada dua rancangan berbeda dengan detail masing-masing. Ketika orang menyebut pakaian adat Aceh, sebenarnya mereka sedang menyebut satu payung yang menaungi dua versi.

Seiring waktu, aturan itu longgar. Sekarang siapa pun dapat menggunakan Ulee Balang. Pergeseran ini bukan hal sepele. Ia menunjukkan bahwa pakaian adat bisa berpindah fungsi, dari simbol status menjadi simbol kebanggaan daerah yang boleh dipakai bersama-sama. Kalau kamu pernah melihat pengantin Aceh dengan hiasan kepala bertingkat dan sulaman berkilau, kemungkinan besar yang kamu lihat adalah versi masa kini dari pakaian yang dulu dijaga ketat oleh istana.

Apa Yang Sebenarnya Membuat Sebuah Pakaian Adat Disebut Populer

Populer itu kata yang licin. Diukur dari apa? Dari jumlah orang yang memakainya, dari seberapa sering muncul di layar, atau dari seberapa mudah kita mengingat namanya? Ketiga ukuran itu bisa menghasilkan daftar yang berbeda-beda. Ada pakaian adat yang sangat sering dipakai di acara pernikahan, tapi namanya jarang disebut. Ada juga yang jarang dipakai, tapi namanya selalu muncul di pelajaran sekolah.

Kalau kita coba rumuskan, ada beberapa hal yang biasanya membuat sebuah pakaian adat lebih menonjol dibanding yang lain:

  • Bentuknya mudah dikenali, bahkan oleh orang yang bukan berasal dari daerah itu.
  • Punya aksesori khas yang langsung jadi penanda, misalnya penutup kepala atau hiasan dada.
  • Sering muncul di acara besar, mulai dari pernikahan sampai pertunjukan tarian daerah.
  • Punya cerita di baliknya, entah soal status pemakainya atau soal bahan yang dipakai.
  • Mudah ditemukan dalam bentuk sewaan, sehingga orang luar daerah bisa ikut memakainya.

Poin terakhir itu sering diremehkan. Padahal akses penyewaan berpengaruh besar. Pakaian yang bisa disewa dengan harga terjangkau akan muncul di lebih banyak foto, dan foto yang beredar luas akan membuat namanya lebih cepat diingat. Ini semacam lingkaran yang saling menguatkan antara praktik di lapangan dan ingatan kolektif.

Di sisi lain, popularitas punya risiko. Ketika sebuah pakaian adat jadi terkenal, ia gampang disederhanakan. Detail yang seharusnya punya makna tertentu dipotong karena dianggap ribet. Warnanya diganti karena dinilai lebih cocok untuk foto. Tidak selalu salah, tapi ada baiknya kita tahu bagian mana yang sedang diubah.

Jejak Budaya Asing Di Lembar Kain Kita

Ada anggapan bahwa pakaian adat itu murni warisan leluhur, tidak tersentuh pengaruh luar. Anggapan itu tidak sepenuhnya tepat. Wikipedia bahasa Indonesia menyebut bahwa budaya Indonesia mencakup budaya asli bumiputera sekaligus budaya pribumi yang mendapat pengaruh budaya Tionghoa,Arab,India,Melanesia, dan Eropa.

Pengaruh itu masuk lewat jalur yang berbeda-beda. Perdagangan, pelayaran, penyebaran agama, dan penjajahan semuanya meninggalkan jejak. Pada kain, jejak itu bisa muncul dalam bentuk motif, teknik menyulam, jenis potongan, sampai cara melilit kain di tubuh. Karena itu, tidak mengherankan kalau beberapa pakaian adat dari daerah yang berjauhan punya kemiripan tertentu.

Bagi sebagian orang, fakta ini terasa mengurangi keaslian. Saya tidak setuju sepenuhnya. Budaya yang hidup memang selalu bersentuhan dengan budaya lain, dan sentuhan itu yang membuatnya bertahan. Yang penting bukan apakah sebuah pakaian adat bebas dari pengaruh luar, tapi apakah orang yang memakainya masih tahu dan peduli pada maknanya.

Merawat Pakaian Adat Tanpa Harus Jadi Model

Ada kesan bahwa melestarikan pakaian adat itu urusan orang yang punya kesempatan tampil di panggung. Padahal tidak. Ada banyak cara yang jauh lebih sederhana dan tetap berguna. Yang paling dasar adalah berhenti menyebut semua pakaian adat sebagai baju daerah tanpa nama. Menyebut nama yang benar sudah bentuk penghargaan.

Cara kedua, tanyakan. Kalau kamu menghadiri pernikahan teman dan melihat pakaian yang tidak kamu kenal, tanyakan asalnya. Pertanyaan sederhana seperti itu sering membuka cerita panjang, mulai dari siapa yang dulu boleh memakainya sampai bahan apa yang dipakai. Percakapan semacam ini jauh lebih efektif daripada membaca daftar yang dihafal sekilas.

Cara ketiga, kalau kamu memang memakai pakaian adat untuk foto atau acara, pakailah dengan rapi. Jangan asal pasang. Cari tahu bagian mana yang menghadap ke depan, aksesori mana yang dipasang di sisi kanan, dan bagaimana cara melipat kainnya. Detail kecil itu kelihatan di foto, dan lebih penting lagi, kelihatan oleh orang dari daerah asalnya.

Bagi generasi yang tumbuh dengan kamera di tangan, pakaian adat punya peluang yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Ia bisa muncul di layar setiap hari, bukan hanya sekali setahun saat upacara. Peluang itu sayang kalau cuma dipakai untuk mengejar tampilan, tanpa menyisakan ruang untuk tahu apa yang sedang dipakai. Setidaknya, mulailah dari nama. Dari situ, cerita yang lebih panjang biasanya akan mengikuti dengan sendirinya.

4.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted